
Bogor, SHR //// Komite Sejarah Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia menggelar workshop metodologi penulisan sejarah.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus Mubarak, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Bogor itu menghadirkan sejarawan Mustaqim Asteja.
Pada kesempatan tersebut, Perwakilan Komite Sejarah Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln Rakeeman mengungkapkan tujuan dari workshop tersebut.
Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal penguatan kapasitas penulisan sejarah untuk penguatan kapasitas ke depan.
“Ini adalah satu langkah yang awal perlu dilakukan supaya tim penyusun sejarah nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia dapat meningkatkan kapabilitas dalam hal metodologi dan penyusunan,” ujar Mln. Rakeeman.
Dirinya berharap ke depan dapat hadir sebuah standar dalam kepenulisan sejarah di lingkup Jemaat Ahmadiyah, baik itu nasional maupun daerah.
“Tujuan utamanya adalah mengembangkan kapabilitas atau kemampuan atau melek sejarah itu sendiri,” beber Mln. Rakeeman.
“Sehingga ketika kita terjun dalam penulisan sejarah, kita sudah mengacu pada standar yang berlaku,” tambahnya.
Dokumentasi Sebagai Fondasi Utama Penulisan Sejarah
Sementara itu, sejarawan dan budaya Mustaqim Asteja menekankan bahwa dokumentasi merupakan fondasi utama dalam penulisan dan pelestarian sejarah komunitas secara berkelanjutan komunitas internal.
“Dokumen itu sangat penting sebagai sumber sejarah. Tidak ada dokumen, tidak ada sejarah,” ungkapnya.
“Kalau komunitas Ahmadiyah tidak punya dokumen, tentunya tidak punya sejarah,” tambah Mustaqim.
Dia juga mendorong generasi muda agar aktif mendokumentasikan setiap kegiatan positif sebagai sumber pembelajaran masa depan untuk memperkuat dokumentasi sejarah bersama.
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.