DAIRI –swarahatirakyat.com
Di tengah arus kehidupan modern yang semakin kompleks, masih ada sosok-sosok yang memilih menjadikan hidupnya sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan umat. Salah satunya adalah H. Wahlin Munthe, S.H., M.M., seorang putra daerah yang perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa keikhlasan, kerja keras, dan keteguhan iman mampu mengantarkan seseorang meraih keberhasilan dunia sekaligus menyiapkan bekal akhirat.
Kariernya dimulai dari posisi paling bawah sebagai pencatat meteran PDAM. Dengan ketekunan dan integritas, ia menapaki berbagai jenjang pengabdian hingga dipercaya menjadi Direktur Utama Perumda Air Minum Lae Nciho Kabupaten Dairi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Dairi, dan kini mengemban amanah sebagai Ketua Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI).
Namun di balik sederet jabatan tersebut, ada satu amanah yang sangat dekat dengan hatinya, yakni membangun generasi Qurani melalui Yayasan Rumah Qur'an Wahlin Munthe, sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an yang lahir dari kepedulian dan kecintaannya terhadap agama.
Ketika Kegelisahan Menjadi Amal Jariyah
Rumah Qur'an Wahlin Munthe tidak lahir dari proyek besar atau dukungan finansial melimpah. Ia lahir dari sebuah kegelisahan seorang ayah yang melihat banyak anak-anak pulang sekolah tanpa arah dan tanpa aktivitas yang mendukung pembentukan akhlak serta keimanan.
"Saya sering memperhatikan anak-anak pulang sekolah lalu lalang ke sana kemari. Dari situlah saya bermusyawarah dengan istri untuk membuka rumah tahfiz. Menurut saya agama tidak boleh dijalani setengah-setengah. Minimal seseorang harus memahami agamanya untuk dirinya sendiri, kemudian untuk keluarganya," tutur Wahlin.
Baginya, Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang harus ditanamkan sejak dini. Dari pemikiran sederhana itulah lahir sebuah cita-cita besar: menghadirkan tempat belajar Al-Qur'an yang terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Kini, Rumah Qur'an Wahlin Munthe telah membina sekitar 190 santri, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Mereka datang setiap hari untuk belajar membaca, menghafal, memahami, dan mencintai Al-Qur'an.
Mengajar dengan Keikhlasan, Mendidik dengan Keteladanan
Di tengah mahalnya biaya pendidikan saat ini, Rumah Qur'an Wahlin Munthe tetap bertahan dengan prinsip keikhlasan. Tidak ada pungutan tetap yang dibebankan kepada santri.
"Kami menerapkan sistem infak. Tidak ada biaya bulanan. Semua berjalan dengan semangat gotong royong dan keikhlasan. Insya Allah kebutuhan operasional dan tenaga pengajar kami upayakan semampunya," ujarnya.
Bahkan demi memudahkan para santri yang masih bersekolah formal, pihak yayasan menyediakan fasilitas antar jemput agar mereka tetap dapat menuntut ilmu agama tanpa mengganggu pendidikan umum.
Menurut Wahlin, ilmu agama tidak boleh dijadikan komoditas yang selalu diukur dengan materi. Ia terus menanamkan kepada anak-anaknya dan para pengajar bahwa ilmu yang bermanfaat adalah warisan terbaik yang akan terus mengalir pahalanya.
"Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saya, bila memiliki ilmu, bagikan kepada adik-adikmu, kepada saudaramu. Jangan semua dihitung dengan materi. Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah kita meninggal dunia," katanya.
Menyiapkan Generasi Penjaga Masjid dan Umat
Lebih dari sekadar tempat menghafal Al-Qur'an, Rumah Qur'an Wahlin Munthe diproyeksikan menjadi pusat pembinaan generasi yang kelak mampu menjadi imam, khatib, guru mengaji, dan penggerak kehidupan keislaman di tengah masyarakat.
Sebagai Ketua MUI Kabupaten Dairi, Wahlin memahami bahwa kebutuhan akan kader-kader keagamaan semakin besar. Karena itu ia berharap lahir generasi muda yang siap mengisi ruang-ruang dakwah di masa depan.
"Kita berharap tidak ada lagi masjid yang kesulitan mencari khatib atau imam, terutama pada hari Jumat. Anak-anak inilah yang kita persiapkan agar kelak mampu menjadi pelayan umat dan penerus dakwah Islam," ungkapnya.
Baginya, membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an adalah kewajiban setiap muslim. Karena itu, pendidikan Al-Qur'an harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan seluruh elemen umat.
Menyiapkan Regenerasi Demi Keberlanjutan Dakwah
Sebagai manusia, Wahlin menyadari bahwa usia dan kehidupan memiliki batas. Oleh sebab itu, ia telah mempersiapkan keberlanjutan Rumah Qur'an melalui pembentukan yayasan yang memiliki struktur organisasi yang jelas.
Anak sulungnya dipercaya menjadi Ketua Yayasan dan telah menerima amanah untuk meneruskan perjuangan tersebut.
"Saya sudah berpesan kepada anak-anak, jika suatu saat saya dipanggil Allah SWT, kegiatan ini harus tetap berjalan. Rumah Qur'an ini tidak boleh berhenti. Dakwah harus terus berlanjut," tegasnya.
Wahlin dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Alhamdulillah, seluruhnya menempuh pendidikan tinggi. Dua di antaranya merupakan lulusan Universitas Islam Negeri (UIN), sementara lainnya menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Politeknik Negeri Medan (Polmed).
Dari Meteran Air Menuju Mata Air Kebaikan
Perjalanan hidup Wahlin Munthe merupakan kisah tentang kesabaran dan keteguhan. Ia memulai pengabdian dari pekerjaan sederhana sebagai pencatat meteran PDAM yang setiap hari mendatangi rumah-rumah warga.
Langkah demi langkah, ia membangun reputasi melalui kerja keras dan kejujuran hingga akhirnya dipercaya memimpin Perumda Air Minum Lae Nciho Dairi.
Kepercayaan masyarakat dan umat juga mengantarkannya menjadi Ketua MUI Kabupaten Dairi. Bahkan pada tingkat nasional, ia mencatat sejarah sebagai putra pertama Kabupaten Dairi yang dipercaya memimpin PERPAMSI.
Namun bagi Wahlin, seluruh jabatan tersebut hanyalah amanah yang suatu saat akan berakhir. Yang ingin ia tinggalkan bukanlah kemegahan jabatan, melainkan jejak kebaikan yang terus hidup melalui generasi Qurani.
Membangun Peradaban Melalui Al-Qur'an
Bagi H. Wahlin Munthe, keberhasilan sejati bukanlah tingginya jabatan atau luasnya kekuasaan. Keberhasilan sejati adalah ketika seseorang mampu menghadirkan manfaat bagi sesama dan meninggalkan amal yang terus mengalir pahalanya.
Melalui Rumah Qur'an Wahlin Munthe, ia sedang menanam benih-benih peradaban Islam di Tanoh Dairi. Sebuah ikhtiar sederhana yang kelak diharapkan melahirkan para penghafal Al-Qur'an, imam, ulama, guru, dan pemimpin yang berakhlakul karimah.
Di tengah kesibukannya memimpin berbagai lembaga, Wahlin tetap memegang teguh satu keyakinan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan amal saleh adalah bekal menuju kehidupan yang abadi.
"Selagi Allah masih memberikan kesehatan dan kemampuan, saya akan terus berbuat. Karena ketika kita sudah tiada, yang akan tetap hidup adalah amal, ilmu yang bermanfaat, dan generasi yang kita didik untuk mencintai Al-Qur'an," demikian pesan H. Wahlin Munthe yang menjadi napas dari seluruh pengabdiannya.
(Clara)
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.