Magelang // SHR /// Prabowo Subianto turun langsung meninjau stok pangan dengan melakukan inspeksi mendadak ke gudang Bulog di wilayah Magelang yang didampingi oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono.
Kunjungan ke Perum Bulog Danurejo tersebut menjadi langkah konkret pemerintah memastikan kondisi Cadangan Beras Pemerintah tetap aman di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Sidak ini menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan administratif, melainkan memverifikasi langsung kesiapan stok di lapangan demi menjaga stabilitas pangan nasional.
“Bapak Presiden tidak hanya menerima laporan di atas kertas, tetapi ingin melihat secara langsung stok beras yang tersimpan di gudang.”
“Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa cadangan pangan benar-benar tersedia, aman, dan siap disalurkan kepada masyarakat apabila dibutuhkan,” ungkap Wamentan Sudaryono.
Dalam keterangannya, Sudaryono menilai langkah ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah menghadapi tekanan global seperti krisis energi dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah dalam hal ini Bapak Presiden ingin memastikan bahwa Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat, baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga pangan,” Ungkapnya
Hasil peninjauan menunjukkan gudang berkapasitas 7.000 ton tersebut dalam kondisi penuh, menandakan kesiapan distribusi beras khususnya untuk wilayah Jawa Tengah
Sudaryono juga menegaskan bahwa sidak dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk mendapatkan gambaran riil kondisi di lapangan.
“Jadi kunjungannya ini bersifat mendadak, jadi tidak ada pemberitahuan, langsung mampir, sehingga ingin mengetahui sebetulnya atau catatan sebetulnya seperti apa.”
“Bahkan memang pimpinan Bulog sengaja tidak kita beritahu untuk kita pengen tahu sebenar-benarnya seperti apa dilapangan.
“Dan ternyata memang membanggakan, jadi stok cadangan beras pemerintah kita memang tinggi, gudang Bulog ini dimana-mana penuh,” Ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa hasil serupa juga ditemukan di berbagai daerah lain setelah dilakukan inspeksi sebelumnya.
“Kemarin saya juga sudah sidak di gudang Bulog tempat lain, termasuk Pak Mentan (Menteri Pertanian) sidak di Makassar, di Bone, dan lain-lain itu penuh semua. Itu menjadi catatannya,” Tambah Wamentan Sudaryono menjelaskan.
Dari sisi produksi, pemerintah mencatat peningkatan signifikan produksi beras nasional sepanjang 2025 yang mencapai kenaikan lebih dari 13 persen.
Capaian tersebut turut mendorong posisi cadangan beras nasional menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
“Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga April 2026 mencapai sekitar 4,8 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5 juta ton.”
“Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri,” Ungkap Wamentan Sudaryono yang juga merupakan anak seorang petani asal Grobogan, Jawa Tengah itu.
Selain stok pemerintah, kekuatan pangan nasional juga ditopang oleh ketersediaan beras di masyarakat serta potensi panen yang masih berlangsung.
“Beras yang beredar di masyarakat diperkirakan mencapai hampir 12 juta ton, serta potensi panen dalam waktu dekat sekitar 12 juta ton.”
“Secara total, kekuatan stok beras nasional mencapai sekitar 28 juta ton setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan,” Imbuhnya.
Pemerintah juga terus memperkuat peran Bulog dalam menjaga keseimbangan harga antara petani dan konsumen.
Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi penyerapan gabah guna menjaga harga tetap stabil di tingkat produsen.
“Kami optimistis target serapan gabah setara beras pada tahun 2026 sebesar 4 juta ton dapat tercapai seiring meningkatnya produksi padi nasional Target ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3 juta ton,” Tuturnya.
Sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Sudaryono menegaskan posisi Bulog sebagai penyangga utama harga pangan nasional.
“Penjamin harga itu Bulog.
Ketika harga jatuh, negara hadir melalui Bulog dengan membeli gabah dari petani dengan harga yang baik sehingga kesejahteraan petani terjamin,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Bulog mengelola sebagian cadangan nasional sebagai buffer stock untuk menjaga keseimbangan pasar.
Intervensi tersebut menjadi krusial terutama saat panen raya yang berpotensi menekan harga di tingkat petani.
Sebaliknya, ketika produksi menurun, cadangan beras akan dilepas ke pasar guna mengendalikan lonjakan harga.
“Jadi harga di tingkat petani dijaga melalui HPP, dan di tingkat konsumen dijaga melalui HET agar keduanya tidak dirugikan,” jelasnya.
Penguatan peran Bulog juga didukung kebijakan pemerintah melalui instruksi presiden serta dukungan anggaran besar.
“Untuk mengelola pangan negara, dibutuhkan aturan yang kuat dan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, peran Bulog terus diperkuat,” pungkasnya.( Geo )
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.