Aceh Tamiang /// Swara Hati Rakyat /// Ribuan anak korban banjir di Aceh Tamiang, terutama Desa Babo, Nanggroe Aceh Darussalam masih belajar di tenda darurat setelah sejumlah sekolah rusak parah diterjang banjir.
Kegiatan belajar mengajar berlangsung terbatas, rata-rata hanya satu jam setiap hari karena panas terpal dan minimnya fasilitas.
Sebagian siswa bahkan harus berjalan kaki hingga satu setengah jam demi mengikuti pelajaran hingga meja dan kursi yang raib terbawa hanyut banjir.

Kondisi tersebut mendorong Humanity First Indonesia memperkuat respons pada sektor pendidikan.
Pada fase tanggap darurat pertama, organisasi ini membangun dapur umum, layanan kesehatan, distribusi sembako, logistik, dan trauma healing.
Lebih dari 12 ribu penerima manfaat tercatat menerima bantuan tahap awal.
Memasuki fase kedua, fokus diarahkan pada pemulihan pendidikan. Hal tersebut diungkapkan Vice Chairman Humanity First Indonesia, Ahmad Masihuddin
“Kami ingin memastikan anak-anak tetap bisa sekolah dan tidak kehilangan harapan masa depan mereka,” ujarnya.
“Bantuan mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti bagi keberlanjutan pendidikan mereka,” sambung Masihuddin.
Bantuan yang untuk pendidikan anak-anak di Aceh Tamiang yang disalurkan meliputi alat tulis, perlengkapan sekolah, dan alat peraga belajar.
Selain itu, mobil antar-jemput disediakan selama tiga bulan untuk memudahkan akses siswa.
Langkah ini diharapkan menjaga keberlangsungan pendidikan anak-anak terdampak.
Program Humanity First Indonesia untuk pendidikan anak-anak Aceh Tamiang berjalan dengan dukungan donatur dan relawan. *

0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.