JAKARTA – ,(SHR) Menandai satu abad perjalanannya di tanah air, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) meluncurkan buku berjudul "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan". Acara yang berlangsung khidmat ini digelar pada Selasa, 20 Januari 2026, bertempat di Wisma Rahmat Ali, Jakarta Pusat.
Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan refleksi atas kontribusi sosial, kemanusiaan, dan komitmen kebangsaan yang telah dijalankan selama seratus tahun. Peluncuran ini dirangkaikan dengan diskusi publik yang menghadirkan pandangan lintas perspektif dari para tokoh dan akademisi.
Dalam sesi diskusi, dengan narasumber :
* Zaki Firdaus Syahid (Amir Nasional JAI): f
* Prof. Ismatu Ropi (Akademisi):
* Heri Haryanto (Intelektual Muda NU):
* Pdt. Gomar Gultom (Tokoh Lintas Iman):
* Mila Muzakar (Pegiat Keberagaman & Gender):
* Dedi Ibmar (Peneliti/Editor)
Dan juga hadir tokoh tokoh lainnya salah satunya, Mantan Mentri Agama Lukman Saefudin Hakim.
• Perjalanan Satu Abad (1925–2025): Video menyoroti bahwa kehadiran Ahmadiyah di Indonesia telah berlangsung bahkan sebelum kemerdekaan. Dimulai dari pemuda Nusantara yang belajar ke India (Kadian) pada tahun 1923-1924, lalu membawa ajaran tersebut kembali ke tanah air.
• Antologi Pemikiran: Buku yang diluncurkan merupakan karya kolektif yang melibatkan 100 tokoh bangsa (akademisi, tokoh lintas iman, dan masyarakat sipil) untuk merekam jejak pengabdian Ahmadiyah secara objektif.
• Diskusi Publik: Menghadirkan berbagai narasumber yang menekankan pentingnya moderasi beragama, keterbukaan, dan kolaborasi kemanusiaan tanpa memandang sekat agama atau golongan.
Pesan Utama
1. Pengabdian Tanpa Henti: Ahmadiyah menegaskan komitmennya untuk terus menjadi bagian dari "simpul kebangsaan" Indonesia melalui kerja kemanusiaan dan pelayanan sosial sebagai wujud Islam yang Rahmatan lil 'Alamin.
2. Kemanusiaan di Atas Perbedaan: Para tokoh (seperti Pdt. Gomar Gultom dan Mila Muzakar) memberikan testimoni tentang bagaimana Ahmadiyah hadir dalam aksi kemanusiaan (seperti penanganan gempa Lombok atau kebakaran) tanpa menonjolkan identitas agama, melainkan murni atas dasar solidaritas kemanusiaan.
3. Mengatasi Salah Paham Melalui Dialog: Bapak Lukman Hakim Saifuddin menekankan bahwa persekusi seringkali lahir dari salah paham teologis. Solusinya adalah keterbukaan komunikasi dan ruang perjumpaan (dialog) antar kelompok masyarakat.
4. Menatap Masa Depan: Memasuki abad kedua, fokus utama adalah menyiapkan generasi muda Ahmadiyah di bidang pendidikan dan pengabdian sosial untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.
5. Relevansi Bagi Anak Muda: Penggunaan media seni, budaya, dan isu lingkungan (green movement) dianggap sebagai cara efektif bagi generasi muda untuk merawat keberagaman tanpa harus merasa kaku dengan doktrin agama.
Secara kesimpulan pesannya adalah ajakan untuk melihat keberagaman sebagai kekayaan bangsa dan menjadikan nilai kemanusiaan sebagai titik temu dalam membangun Indonesia di masa depan.(Doiman/ Jun )



0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.