Bahaya mengancam demokrasi kita.Oleh : RE Siboro.Wanhat Pelita Prabu Sumut.

 


Jakarta,(SHR)Presiden Jokowi hingga saat ini secara formal belum berpihak kepada satu capres. Kalaupun ia jelaskan bahwa  Presiden atau menteri boleh memihak capres tertentu itu hanya menanggapi pertanyaan pers lalu beliau terangkan dasar hukumnya.

 Jadi Presiden is Presiden klarr. Belum pernah mengajukan cuti untuk itu. Sebagai Presiden seperti kebiasaan beliau suka bagi2 baksos. Itu sejak beliau Presiden bahkan sejak ia pejabat publik sebelumnya. Sifatnya shock terapi agar tidak terjadi spekulasi harga sembako dan inflasi terkendali dan rakyatpun senang. Jadi reaksi seperti  dari banyak kalangan tidaklah proporsional. Antara lain sikap pa JK karibnya pa Sofyan Wanandi  yang menurut saya  tidak proporsional bahkan tidak  konsisten. Beliau mengatakan bagi2 baksos seperti itu adalah tugas sekelas Camat. Kita heran beliau dulu sewaktu jadi wapresnya Jokowi  tidak pernah bersuara seperti itu. . 

Mungkin ada kepentingan ya atau tidak, silahkan pembaca berassumsi! Sesungguhnya aksi itu dilakukan Presiden hanya  untuk segelintir dari jutaan penduduk yang berhak atas baksos itu. Pengaruhnyapun di pilpres saya duga tidak nyata. Cerita bagi2 baksos konon terjadi di suatu pilbup. Bagi2 baksos yang jelaspun janjinya untuk mencoblos pilbup si A, dari 60 ribu paket dan uang diberi, yang berkomotment memilih hanya 47 ribu. Padahal transaksinya jelas, dimulai dengan pemberian TTR atau semacam uang panjar. Contoh lain saya mencoba teman pensiunan kemarin agar memilih no 2. Bukankah Presiden sudah menaikkan 12% gaji pens dan beri gaji 13,14 ? Apa jawabnya? Itu uang rakyat Lae. Semua partai berjasa untuk kita para pens ini. Pokoknya Amin supaya negara ini berobah. 

Jadi kalaupun berpengaruh,sedikit. Pertanyaan berikutnya, Kenapa tidak mengikutkan Mensos dan kenapa di Jateng? Sepanjang kita dengar dari keterangan pemerintah bahwa baksos ini dari Bulog bukan dari Mensos namun kenapa di Jateng? Itu yang belum ada keterangan persnya. Mungkin disini letak soalnya. Lawan politik berasumsi bahwa aksi itu berpihak ke capres no 2 yang cawapresnya kebetulan anaknya sendiri dalam pertarungan lumbung suara Pilpres di Jateng. Dalam politik biasa muncul asumsi tetapi  dalam tata pemerintahan   yang benar adalah benar bila tidak ada aturan yang melarangnya. Semua ada sop nya, tidak ada yang dilanggar. Presiden punya hak bagi2 baksos di seluruh Indo. Jadi kenapa para Gubes UGM  itu resah? dan diikuti kuda Troya lain UII,ui, Unand dst. Bukankah cukup dicounter saja bahwa baksos itu dari APBN, hak rakyat dan bukan dari pribadi Presiden? Kok brisik kali ! Jangan jangan seperti main bola di kampung awak karena sudah injury time score sudah 3 kosong kaki lawan pun ditebas supaya rusuh agar lalu pertandingan dibatalkan oleh  wasit. Atau seperti kisah Maradona di Pildun Mexico yang memenangkan Pildun dengan gol tangan Tuhan.  tetapi diputuskan wasit sah. Inggeris pun di hari berikutnya tetap mengakui kekalahannya demi sportifitas. Kalau begini bukan hanya tidak etis tetapi sudah tidak bermartabat bahkan berbahaya sebagai suatu bangsa. Pasti aparat akan turun gunung mengambil kekuasaan atas nama menyelamatkan demokrasi kayak di Thailand dan Myanmar sana. Mudah2 an tidak tanggal 14 ini !.(Tim)

Share on Google Plus

About swarahatirakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.