Rafa’ahullahu Ilaihi

Itu pernyataan sekaligus pertanyaan dari peserta diskusi Ahmadiyah : Kajian Theologis dan Setting Sosial di Hindustan abad-19. Acara dilaksanakan di Rumsi JAI, Jalan Dahlia, Banjarmasin (21/2). 
Pak Ekky, yang menjadi narasumber selanjutnya menjelaskan, ‘Rafa’a’ itu artinya diangkat, dinaikkan yang mempunyai makna luas. Bukan berarti naik dari bawah ke atas secara fisik. Sebagai gambaran dijelaskan; dalam shalat yaitu duduk di antara 2 sujud, dibacakan doa ‘rabbighfirli, warhamni, warzuqni, warfa’ni.’ Ya Tuhanku ampunilah aku, Kasihanilah aku, limpahkan rezeki padaku, angkatlah (derajat) ku. Kita berdoa agar Allah swt mengangkat derajat keimanan kita, bukan agar kita diangkat ke langit.
Demikian juga tafsir kalimat ‘Rafa’ahullahu ilaihi’, dalam surat An Nisa: 159 bermakna Allah swt mengangkat derajat Nabi Isa as dalam kedudukan rohani yang tinggi di sisi-Nya (ilaihi) bukan diangkat ke langit (ila sama’i). Mln. Amin menambahkan tentang hadis yang berbunyi; Barangsiapa yang merendahkan hati, maka Allah akan mengangkatnya ke langit ke-7. Ini juga tidak bisa ditafsir akan diangkat ke langit secara jasmani.
Dalam diskusi yang diikuti sekitar 40 peserta terdiri atas 20 mahasiswa UIN Antasari, Dosen, pengikut Milah Ibrahim, para Muballighin, Anshar dan Khuddam tersebut, Narasumber yang juga menjabat Sekretaris Isyaat PB memaparkan ayat-ayat Al Quran yang menyatakan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.
Topik lain yang dikaji diantaranya; Konsep Salib menurut ajaran Taurat dan ajaran Kristen, pemahaman penyaliban menurut golongan Islam mainstream dan Ahmadjyah, Konsep Nuzulul Masih, setting sosial di Hindustan pada abad 19, kiprah Masih Mau’ud as dalam membela Islam.
Setelah lebih dari 1 jam memberi paparan, peserta diberi waktu untuk bertanya. Hal yang ditanyakan masalah ‘Rafa’ahullahu ilaihi’ seperti diuraikan di atas, siapa yang disalib apakah Nabi Isa as atau orang lain yang diserupakan, konsep Dajjal yang akan dibunuh oleh Al Masih yang dijanjikan, metode tafsir Al Quran, bentuk kenabian Mirza Ghulam Ahmad as. 
Tentang Dajjal, narasumber menjelaskan, Rasulullah saw mengamanatkan kepada umat Islam yakni untuk terhindar dari fitnah Dajjal kita harus mengkaji 10 ayat pertama dari surat Al Kahfi. Surat itu lalu dibacakan oleh Mln. Anwar. Disana dijelaskan bagaimana bahayanya mereka yang mengatakan bahwa Allah swt telah mengangkat anak seorang laki-laki. Jadi Dajjal itu adalah golongan yang menyebarkan faham bahwa Allah mempunyai anak. Ini terbukti dalam sejarah dunia yakni tidak ada satu pun bangsa Islam yang tidak dijajah oleh bangsa Barat yang berefek dari meluasnya penyebaran faham Dajjal di atas.
Setelah lebih dari 2 jam, acara dilanjutkan dengan pemberian buku kepada peserta yang aktif berkontribusi. Lalu ditutup serta dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Share on Google Plus

About Swara Hati Rakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276

0 komentar:

Posting Komentar