Kebangkitan Tauhid Melalui Rasulullah - Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia


Yang Mulia Rasulullah saw  diutus ke dunia agar beliau mengaruniakan pendengaran kepada manusia yang dilanda ketulian sesudah beberapa ratus tahun. Siapakah yang dimaksud sebagai orang buta atau yang tuli? Mereka adalah manusia yang tidak mengakui Ketauhidan Ilahi dan mereka yang menolak Rasul yang telah membangkitkan kembali Ketauhidan Ilahi di muka bumi. Beliau adalah Rasul yang telah mengubah orang-orang liar menjadi manusia untuk kemudian mengangkat derajat mereka sebagai manusia yang berakhlak baik, lalu mewarnai mereka dengan warna-warna Ilahi dari sosok manusia yang dekat kepada Tuhan. Beliau itulah Rasul yang menjadi matahari kebenaran, di kaki siapa ribuan orang-orang yang batinnya telah mati karena paganisme, atheisme dan kehidupan dosa, kemudian dibangkitkan. Apa yang dilakukannya tidak semata hanya bicara seperti halnya yang dilakukan Isa as. Rasul yang muncul di Mekah itu telah menyingkap kegelapan mengenai hubungan dengan Tuhan dan penyembahan mahluk hidup. Beliau itulah terang dunia sesungguhnya, yang menemukan kegelapan di dunia dan mengaruniakan Nur yang telah merubah malam gelap menjadi siang terang. Bagaimana bentuk dunia sebelum kedatangan beliau serta bagaimana akhirnya setelah itu? Ini bukanlah suatu pertanyaan yang sulit dijawab.”
“Jika kita beriman maka nurani kita akan mengingatkan bahwa sebelum turunnya wujud yang mulia itu, nyatanya kebesaran Tuhan telah dilupakan manusia di semua negeri dan keimanan manusia telah dialihkan kepada dewa-dewa, batu, bintang-bintang, pohon, hewan dan bahkan manusia lainnya dimana mahluk-mahluk rendah demikian ditempatkan dimana seharusnya hanya berada Keagungan dan Kesucian Allah swt  Kalau memang benar bahwa manusia, hewan dan bintang-bintang itu memang Tuhan adanya, termasuk Yesus as, maka Rasul ini tidak diperlukan. Kalau mereka nyatanya bukanlah Tuhan maka pengakuan yang dinyatakan oleh penghulu kita
Yang Mulia Nabi Muhammad saw  di bukit kota Mekah memiliki Nur yang menyertainya. Apakah pengakuan tersebut?”
“Pengakuan itu adalah karena Tuhan melihat betapa dunia ini sudah tenggelam dalam kegelapan dan telah menyekutukan Tuhan maka Dia telah mengutus beliau untuk mengusir kegelapan. Hal itu tidak semata berhenti pada pengakuan saja, tetapi Rasul yang diridhoi Allah swt  tersebut sepenuhnya telah menegakkan pengakuan itu. Kalau keunggulan seorang Nabi bisa ditetapkan dengan cara demikian sehingga nyata bahwa kasihnya jauh melampaui kasih Nabi-nabi lain, maka wahai manusia, sepatutnya kalian bangkit dan bersaksi bahwa dalam hal ini Yang Mulia Nabi Muhammad saw  tidak ada padanannya di muka bumi. Masih ada saja para penyembah berhala yang buta yang belum mengakui beribu contoh-contoh kasih kemanusiaan yang telah dikemukakan oleh Rasul Akbar ini. Aku sendiri meyakini bahwa sudah tiba waktunya bagi Nabi Suci ini untuk dikenal manusia. Silakan kalian catat pernyataanku bahwa mulai sekarang ini penyembahan seorang yang sudah mati akan mulai menurun sampai suatu hari nanti pupus sama sekali.”
“Apakah manusia mau mengangkat dirinya melawan Tuhan? Mungkinkah senoktah mahluk tidak berarti mencoba menrancukan rencana Tuhan? Mungkinkah rencana manusia maya ini mempengaruhi kaidah Ilahi? Wahai kalian yang bertelinga, dengarlah, dan kalian yang berpikir, renungkanlah dan ingat bahwa kebenaran akan dinyatakan dan beliau yang menjadi Nur yang sesungguhnya akan berkilau sepenuhnya. (Majmua Ishtiharat, vol. 22, hal. 67- 68).
***
“Menurut pengalaman pribadiku, kepatuhan kepada Yang Mulia Rasulullah saw  dengan kecintaan dan ketulusan hati, pada akhirnya akan menjadikan seseorang dicintai oleh Allah swt . Tuhan akan menciptakan kecintaan kepada Wujud-Nya di dalam kalbu yang bersangkutan sehingga ia akan menarik diri dari segalanya dan condong sepenuhnya kepada Allah swt  dengan segala kecintaan dan hasrat. Pada saat itu akan turun manifestasi kasih Ilahi ke atas dirinya yang akan mewarnai kalbunya dengan kecintaan dan pengabdian kepada Wujud-Nya dengan kekuatan akbar. Ia kemudian akan mengalahkan semua hasrat-hasrat pribadinya dan dari segala penjuru akan muncul tanda-tanda ajaib dari Allah swt  Yang Maha Kuasa yang akan membantu dan menolongnya.” (Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Rohani Khazain, vol. 22, hal. 67-68, London, 1984).
***
“Aku telah menyaksikan bahwa dengan membaca shalawat bagi Nabi Suci saw maka rahmat Ilahi berbentuk Nur akan menyinari menuju Yang Mulia Rasulullah saw yang kemudian diserap oleh dada beliau, dan dari sana lalu muncul pancaran arus sinar ke arah manusia-manusia yang patut menerimanya sesuai kemampuannya masing-masing. Sesungguhnya tidak ada rahmat yang bisa mencapai siapa pun tanpa melalui perantaraan Yang Mulia Rasulullah saw  Memohonkan shalawat atas beliau akan menggerakkan Arasy Ilahi dari mana Nur itu bersumber. Barangsiapa mengharapkan rahmat dari Allah swt  Yang Maha Agung, sewajarnya selalu menyampaikan shalawat bagi beliau dengan rajin agar rahmat tersebut tergerak baginya.” (Al-Hakam, 28 Pebruari 1903, hal. 7).
***
“Suatu malam, hamba yang lemah ini membaca shalawat bagi Yang Mulia Rasulullah saw  sedemikian rupa sehingga hati dan jiwaku dipenuhi wewangiannya. Malam itu aku melihat dalam ru’ya beberapa malaikat membawa kantung-kantung air yang penuh dengan Nur ke dalam rumahku dan salah seorang dari mereka berkata kepadaku: ‘Semua ini adalah shalawat yang engkau mintakan bagi Muhammad saw ”. (Barahin Ahmadiyah, Rohani Khazain, vol. 1, hal. 598, London, 1984).
Share on Google Plus

About Swara Hati Rakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276