Pria Ini Sungguh Gila, Anaknya Berusia 10 Tahun Dicekik dan Ditinju, Mayatnya Dibuang ke Semak-semak

DOLOKSANGGUL, (SHR)  Nahas betul nasib Aldi Sibarani, bocah berusia 10 tahun yang tinggal di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
Ia tewas dengan cara mengenaskan di tangan ayahnya sendiri, Mangasa Sibarani.
Peristiwa pembunuhan ini terjadi 12 Februari lalu. Setelah dinyatakan hinga selama enam hari, mayat Aldi baru ditemukan pada 18 Februari 2017 oleh warga dan membuat geger masyarakat sekitar.
Dari penemuan mayat Aldi, polisi melakukan penyelidikan untuk menemukan pelaku pembunuhnya. Ternyata, ayahnya sendiri pelakunya.
SatReskrim Polres Humbahas menetapkan Mangasa Sibarani, ayah kandung korban yang disebut sebagai pelaku, yang sebelumnya sudah diamankan sejak Senin (20/2) lalu.
Kapolres Humbahas AKBP Nicholas Lilipaly dalam siaran persnya mengatakan Mangasa bekerja sebagai sopir angkot. Sedangkan istrinya bekerja di Medan sebagai penjahit bersama anak bungsu dan anak sulungnya.Menurut Nicholas Lilipaly, pada hari Minggu (12/2/2017) sekira pukul 10.00 WIB, istrinya berpamitan untuk pulang ke Medan menjemput barang-barangnya sekaligus menjemput anak mereka yang sulung, untuk kemudian kembali ke kampung bersama suaminya.
Ketika itu, korban mengantarkan ibunya ke loket bus untuk mengambil mobil tujuan ke Medan. Namun setelah korban pulang ke rumah, pelaku menanyai korban ibunya diantar kemana. Korban mengaku jika ia mengantar ibunya ke samping Polsek Dolok Sanggul yang notabene bukan loket bus.
Mendengar jawaban itu, pelaku kian curiga jika istrinya selingkuh. Namun pelaku coba menenangkan diri. Hingga kemudian sore harinya, pelaku menyuruh korban membeli rokok.
Saat itu korban sempat bermain-main dengan temannya hingga tak kunjung pulang.

Kemudian, pelaku bersama anak bungsunya pergi ke warung tempat korban membeli rokok mengendarai sepeda motor yang dipinjam dari tetangganya, untuk mencari korban. Namun saat itu pelaku tidak menemukan anaknya, sementara pemilik warung mengaku jika korban telah pulang dan membawa rokok yang dibeli.
Pelaku lalu mencari korban masih bersama anak bungsunya mengendarai angkotnya.
Saat di tengah jalan sekira 500 meter dari rumah pelaku, korban diyakini bersembunyi di semak pinggir jalan. Namun saat angkot pelaku melintas, tiba-tiba korban keluar dari semak-semak dan sempat terserempet angkot pelaku.
Pelaku kemudian memarkirkan angkotnya dan pergi ke belakang angkot, dan mendapati jika ternyata itu adalah anaknya. Pelaku lalu bertanya kenapa korban tak kunjung pulang, saat itu pelaku sudah emosi ditambah beban pikiran kecemburuan terhadap istrinya.
Pelaku lalu meninju kepala dan mencekik leher korban hingga beberapa kali dan korban akhirnya tersungkur dan duduk tersandar ke bagian belakang angkot.
Pelaku lalu membenturkan kepala korban ke bagian bamper mobil yang terbuat dari besi, tak sampai di situ, pelaku masih terus menendangi bagian perut korban. Usai menendang perut korban beberapa kali, pelaku lalu tersadar dan buru-buru membawa korban ke Pos Kesdes, sekira 300 meter dari lokasi.
Sampai di Pos Kesdes, pelaku lalu memutar angkotnya dan berniat menurunkan korban. Namun saat masih di dalam angkot, pelaku memegang nadi korban dan tidak merasakan denyut nadinya lagi. Curiga jika anaknya sudah meninggal, pelaku lalu membakar rokok yang dibeli anaknya dan menyulut api rokok itu ke tangan kanan dan kiri korban.
Saat itu, korban tak lagi bereaksi. Pelaku yang yakin jika anaknya sudah meninggal lalu panik. Ia kemudian menggendong korban, sementara anak bungsunya digendong di belakang. Pelaku lalu membawa korban ke semak-semak dan menyembunyikan korban di semak sekira 200 meter dari pemukiman warga.
"Dia cemburu sama istrinya, ditambah lagi anaknya lama pulang saat disuruh beli rokok, akhirnya dia emosi dan memukuli anaknya hingga anaknya meninggal. Lalu pelaku sempat berupaya membawa anaknya ke Poskesdes, namun saat itu pelaku coba mengecek apakah anaknya masih hidup dengan cara menyulut api rokok ke tangan korban, saat itu masih di dalam angkot. Namun korban tidak lagi merespon hingga pelaku yakin jika korban sudah tidak bernyawa," sebut Kapolres Humbahas AKBP Nicholas Lilipaly.
Mengasa, selama ini ia memang curiga jika istrinya selingkuh, emosinya kian memuncak saat anaknya lama pulang ketika disuruh membeli rokok. Meski begitu, ia mengaku menyesal karena telah membunuh anaknya.
Terkait dengan kondisi tubuh korban ditemukan 6 hari kemudian, Kapolres menyebut jika keterangan sementara dari dokter forensik bahwa korban dinyatakan meninggal 6 hari sebelum ditemukan, sesuai dengan keterangan pelaku. Namun karena kondisi jasad korban tidak menyentuh tanah, maka jasad korban tidak hancur.
"Keterangan sementara dari dokter forensik, bahwa korban diduga meninggal pada hari Minggu malam. Namun kalau untuk resminya, mungkin kira-kira dua minggu lagi hasil otopsi keluar dari RS Bhayangkara Medan," ujar Kapolres.
Terkait dengan kejiwaan pelaku, Nicholas mengaku masih akan membawa pelaku ke psikolog untuk memeriksa kejiwaan pelaku.
"Sampai sejauh ini, kita belum menemukan kejanggalan terkait dengan kejiwaan pelaku, meski begitu kita akan membawa pelaku ke psikolog untuk memastikan kejiwaan pelaku," ujar Nicholas.
Atas perbuatannya, pelaku disangkakan melanggar pasal 338 dan 351 ayat 1 dengan ancaman 20 tahun penjara.(ceria)

Share on Google Plus

About Swara Hati Rakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276