DAIRI/swarahatirakyat///Suasana kebersamaan dan toleransi lintas iman terasa hangat dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar Pemerintah Kabupaten Dairi bersama insan pers. Kegiatan ini berlangsung penuh hikmah, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi moral bagi para jurnalis dalam menjalankan tugas pemberitaan.
Menariknya, sebelum memasuki rangkaian acara utama dan menunggu waktu berbuka puasa, para insan pers yang hadir terlebih dahulu mengikuti ibadah singkat umat Nasrani yang dipimpin oleh Pdt. Christa Barita Br. Siahaan, S.Th., M.Pd.
Dalam renungannya yang diambil dari Surat Efesus 5:8–14, pendeta mengingatkan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai “anak-anak terang”. Terang tersebut tercermin melalui buah kehidupan berupa kebaikan, keadilan, dan kebenaran, karena Kristus telah mengubah manusia secara radikal dan memanggil mereka untuk membawa terang bagi sesama.
Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan peran jurnalis dalam kehidupan masyarakat.
“Ketika orang membaca tulisan dari media, pikiran mereka jangan dikacaukan oleh berita yang membuat keadaan semakin gelap. Sebaliknya, tulisan yang kita hadirkan harus menjadi titik terang yang memberi pencerahan,” ujarnya.
Menurutnya, profesi jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan informasi yang benar dan membangun, sehingga mampu menjadi sumber penerang di tengah derasnya arus informasi.
“Tuliskanlah berita yang menjadi sumber terang, yang bermanfaat dan mampu menerangi kegelapan informasi. Berbuahlah dengan karya yang manis dan membawa kabar baik,” pesannya.
Bupati Nyanyikan Lagu Ciptaannya
Usai ibadah singkat, Bupati Dairi juga sempat menggugah suasana dengan menyanyikan sebuah lagu rohani ciptaannya sendiri. Lagu tersebut mengisahkan pengalaman spiritual tentang perjalanan hidup manusia bersama Tuhan, yang terinspirasi dari kisah reflektif “Jejak Kaki di Pasir” (Footprints in the Sand).
Dalam lagu itu digambarkan seseorang yang bermimpi berjalan di tepi pantai bersama Tuhan. Di sepanjang perjalanan hidupnya tampak dua pasang jejak kaki di pasir—jejak manusia dan jejak Tuhan. Namun pada masa-masa tersulit dalam hidupnya, ia hanya melihat satu pasang jejak kaki.
Hal itu sempat membuatnya bertanya-tanya, seolah Tuhan meninggalkannya di saat paling sulit.
Namun jawaban Tuhan dalam kisah tersebut memberikan makna mendalam: jejak kaki yang tersisa bukanlah milik manusia, melainkan milik Tuhan. Pada saat itulah Tuhan sedang menggendongnya melewati masa sulit.
Pesan tersebut menggambarkan pergumulan hidup sekaligus keyakinan bahwa dalam masa paling berat sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Tausiah Ramadan: Pers Diminta Menyebarkan Kedamaian
Memasuki waktu berbuka puasa, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qori’ah dan Mutarjim, sebelum tausiah disampaikan oleh Ustaz Irwan Sidebang.
Dalam ceramahnya, Ustaz Irwan mengajak insan pers untuk menjalankan profesinya dengan nilai-nilai kebajikan.
“Jangan sibuk mencari kesalahan orang lain, tetapi carilah kebaikan. Jangan pelit untuk memberi, karena memberi adalah bagian dari kemuliaan akhlak,” ujarnya.
Ia juga mengutip pepatah yang sarat makna tentang kehidupan.
“Berbuatlah baik seakan-akan kita akan mati esok hari, tetapi tetaplah berkarya seolah kita akan hidup seribu tahun lagi,” ungkapnya.
Pesan tersebut, menurutnya, sangat relevan bagi insan pers yang memiliki peran besar dalam membentuk opini publik. Tulisan yang dihasilkan hendaknya mampu menumbuhkan kedamaian, bukan memperkeruh keadaan.
Bupati: Jurnalisme Harus Bijak dan Tidak Mendramatisir
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Bupati Dairi juga menyampaikan pesan dan kesannya kepada para jurnalis. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah berinteraksi dengan dunia media selama lebih dari 44 tahun, sehingga memahami dinamika hubungan antara pemerintah dan pers.
Dalam kesempatan itu, ia berpesan agar para jurnalis tetap menjaga etika profesional dalam pemberitaan.
“Jangan pelit memberi apresiasi ketika ada hal baik. Jangan mendramatisir berita yang dapat memicu konflik atau mengelompokkan masyarakat. Hindari ironi yang justru melukai orang lain,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dan potensi untuk melakukan kesalahan.
“Manusia adalah tempatnya salah dan keliru. Ketika teman kita melakukan kesalahan, jangan terlalu cepat menghakimi,” tambahnya.
Dialog Terbuka dengan Insan Pers
Setelah berbuka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab antara insan pers dengan Bupati Dairi dan Sekretaris Daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menegaskan bahwa dirinya tidak anti kritik. Namun ia juga menekankan bahwa setiap kebijakan yang diambil pemerintah telah melalui mekanisme dan aturan yang berlaku, termasuk ketentuan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Jika ada keputusan yang dinilai keliru, tentu dapat direvisi sesuai mekanisme yang ada,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam menentukan jabatan dan kedudukan di lingkungan pemerintahan, dirinya tidak berada di bawah kendali pihak mana pun.
Silaturahmi Lintas Iman
Kegiatan buka puasa bersama ini berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan. Acara dihadiri oleh Sekretaris Daerah, para Asisten, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta para jurnalis dari berbagai media.
Pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Dairi, dan dihadiri oleh insan pers dari berbagai latar belakang agama, baik Muslim maupun Nasrani.
Momentum ini menjadi simbol kuat harmoni, toleransi, dan kolaborasi antara pemerintah dan insan pers, sekaligus mengingatkan bahwa media memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang mencerahkan dan membangun masyarakat.
*(clara)
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.