Tasikmalaya, SHR – Jemaat Muslim Ahmadiyah hadirkan potret nyata toleransi dalam peringatan Haul ke-16 Gus Dur.
Suasana berbeda terasa dalam Haul Gus Dur ke-16 di Ponpes Mathlabul Hidayah, Cigalontang.
Bukan hanya diskusi tentang toleransi, tetapi praktik toleransi itu sendiri terlihat nyata di tengah keberagaman peserta yang hadir, termasuk dari Jemaat Musilm Ahmadiyah Tasikmalaya.
Perwakilan Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya, Mawahibur Rahman menyampaikan bahwa kehadirannya di forum tersebut bukan sekadar sebagai pembicara, tetapi sebagai bagian dari kebersamaan lintas keyakinan yang jarang ditemukan di ruang publik.
“Tema ini sangat baik untuk merekatkan berbagai bentuk keragaman di Tasikmalaya dan membangun kesadaran bersama menjaga alam,” ujarnya.
Mawahibur Rahman menekankan bahwa menjaga keberagaman pemahaman adalah bagian dari semangat yang sama ketika manusia diajak menjaga alam.
Kesan inklusif juga disampaikan Febriantin Zakia, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya yang hadir sebagai aktivis perempuan.
“Saya dari Muhammadiyah, teman-teman dari Ahmadiyah sangat dirangkul. Tidak ada perbedaan karena kita sama-sama di Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Koordinator Gusdurian Tasikmalaya, Zeynda Usman Awliya menyebut bahwa nilai Gus Dur harus hidup di tengah masyarakat, bukan sekadar dikenang.
“Nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan demokrasi, dan keadilan ekologi itu harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah Tasikmalaya, momen ini menjadi simbol bahwa ruang dialog dan kebersamaan lintas keyakinan masih tumbuh di tengah masyarakat.
Terlebih ketika isu yang diangkat adalah kepentingan bersama: menjaga lingkungan.
Dari kaki Galunggung, haul ini memperlihatkan satu pesan kuat: ketika agama berbicara tentang alam, sekat keyakinan menjadi mencair. Dan di ruang itulah, Jemaat Ahmadiyah Tasikmalaya hadir, diterima, dan ikut berkontribusi dalam semangat kebersamaan. *

0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.