Dituding Mencuri, Menantu Wartawan Ditembak Kedua Kakinya Parah Diduga Kuat Salah Tangkap


Medan, (SHR)  Peristiwa tragis dialami Wanda Gunawan Pasaribu (32) warga Jl. Sutomo Gang Yahya no 7, dirinya dituding mencuri handphone hingga kedua kakinya sengaja ditembak polisi, Senin (9/7/2018).
Menurut Otti Batubara selaku mertua Wanda mengatakan, menantunya itu dijemput polisi saat hendak pulang bekerja di bengkel dalam keadaan sehat.
“Dia dijemput baik-baik oleh 4 polisi yang salah satu dari polisi itu temannya yang bernama Haris Kurniawan Putra. Menantu saya saat itu sehat-sehat saja,kenapa tiba-tiba kakinya malah ditembak,” ungkap Otti saat di Mapolsek Medan Timur, Selasa (10/7/2018) siang.
Sadisnya, lanjut Otti lagi malah penyiksaan yang dilakukan petugas tidak berprikemanusiaan, mata pelaku dilakban dan dipaksa mengaku lalu ditembak.
“Saya tanya menantu saya bagaimana perlakuan polisi kepada dirinya. Menantu saya katakan dirinya dipaksa mengaku, dibawa naik mobil lalu matanya dilakban dan dibawa keliling hingga ke dua kakinya ditembak,” ungkap wartawan media online ini menyampaikan.
Otti juga menyesalkan pernyataan Kapolsek Medan Timur yang menuding menantunya sebagai penjahat hanya dengan melihat wajahnya.

“Kalau bicara fakta hukum, tolong disebutkan buktinya, kalau tidak sanggup membuktikan jangan diplintir malah Kapolsek bilang dari wajahnya saja sudah bisa menilai dia residivis. Malahan wajah menantu saya ganteng, kog jadi mengada-ada Kapolsek itu,” ujarnya.
Otti tidak membantah bawah menantunya pernah dipenjara pada tahun 2012 karena mencuri sisa barang rongsokan di bengkel dan dijual ke botot.
Namun itu, ungkap Otti tidak serta merta memberikan vonis menantunya sebagai residivis. Akibat perlakukan sadis itu, Otti mengaku akan mengadukan peristiwa ini ke Propam Poldasu dan Kontras Sumut.
“Saya bukan membela menantu saya, tolong terapkan azas praduga tidak bersalah, jangan karena polisi malah berlaku sewenang-wenang. Saya akan adukan Kapolsek Medan Timur, karena sudah banyak terduga pelaku matanya dilakban lalu ditembak, selanjutnya polisi nantinya akan menggelar konferensi pers mengatakan penembakan itu dilakukan karena tersangka melawan dan hendak melarikan diri. Itu ditembak jarak dekat,. Kita sudah tahu kinerja polisi kalau sudah melakukan penembakan, mereka selalu berdalih bahwa  pelaku melawan petugas, ” tegasnya.
Otti memaparkan kejanggalan informasi yang dikirim Kapolsek Medan Timur dimana kejanggalan itu antara lain:
1. Sepeda motor tersangka saat melakukan pencurian dengan menggunakan kereta bebek, sedangkan Wanda tidak memiliki sepeda motor bebek.
2.Dinyatakan 2 tersangka pelaku pencurian tetapi hanya Wanda disebutkan, sedangkan tersangka satu lagi tidak ada disebutkan namanya dan juga statusnya apakah sebagai DPO, sedangkan pelaku Apriliadi hanya tersangka pelaku penadah (480).
3. Korban mengaku kehilangan barang bukti hape 1 unit HP Asus , 1 unit HP Lenovo , 2 unit HP Blackberry dan Kapolsek dalam keterangannya hanya menemukan 1 unit merk Oppo, tidak sesuai dengan barang pelapor yang hilang.
4. Kapolsek Wilson Pasaribu dalam kronologis kejadian hanya menuding tersangka berdasarkan informasi saja, tidak berdasarkan laporan polisi (LP) masyarakat dan pengakuan diduga tersangka.
“Anehkan, polisi tidak profesional, dari bukti-bukti yang disebutkan polisi tidak ada yang mengarah kepada menantu saya, jadi kuat dugaan polisi salah tangkap. Densus 88 saja sudah sering salah tangkap apalagi sekelas petugas Polsek,” bebernya.
Wartawan media Bumantara itu juga meminta agar Kapolda mengingatkan bawahannya dalam melaksanakan tugas agar sesuai SOP, jangan beraksi ala Koboy mengumbar peluru saja.
“Tolong pak Kapolres dan khususnya Kapolda Sumut, para penganyom masyarakat itu dipereringatkan lagi jangan seperti Koboy bila mengungkap kasus,” pinta Otti. (ceria)
Share on Google Plus

About Swara Hati Rakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276