Tigor Lumbantoruan Maju Pilkada Taput 2018


Taput,SHR- Menyekolahkan anak setinggi-tingginya," adalah Misi Utama dan klasik dari "Halak" Batak. Tidak berhenti di situ. Tetapi juga "mengutus" anak untuk menduduki jabatan pelayanan (public servant), di samping dunia usaha;
Bahkan, "ukuran" konkret keberhasilan dan kesalehan bagi "Halak" Batak adalah kehadiran dan posisi anak-anaknya (laki-laki atau perempuan) di bangunan tata dunia. Orangtua yang memiliki sarana kelimpahan hidup, namun jika anak-anaknya tidak eksis di dalam tata dunia, maka Orangtua demikian masuk dalam ketegori "gagal";
Tigor Lumbantoruan adalah salah seorang dari putera Keluarga "Halak" Batak. Anggota DPRD Propinsi Sumatera Utaraini adalah generasi "Borsak Sirumonggur, Sihombing Lumbantoruan." Sampai di sini, jika tulisan ini ingin bernuansa literer, sudah mengalami kesulitan. Karena "semua" komponen besar "Marga" Batak tidak tertuang dalam bentuk tulisan, buku;
"Hagabeon, Hasangapon, Hamoraon" (Memiliki anak laki-laki dan perempuan, Kehormatan, dan Kekayaan sarana hidup [dan rohani], merupakan falsafah hidup orang-orang Batak. Pandangan hidup ini mengarah pada eskatologi, sebelum agama modern, maupun pasca agama modern memasuki ranah Batak. Setiap orang Batak, berdasarkan talenta, minat atau bakatnya dalam konteks jaman memiliki jalan hidup yang berbeda;
Di dalam jalan hidup yang berbeda-beda itu, nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup orang Batak dan Kebatakan yang "sublimatif" tetap aktual. Dalam cangkang tuntunan terang cahaya Kebatakan yang sejati itu, sesama orang Batak memaknai "semua" dimensi hidupnya. Tidak terkecuali dimensi tata dunia, atau jabatan kekuasaan politis;
Orang-orang Batak (baca juga masyarakat), amat menonjol dalam solidaritas. Untuk itu, orang Batak kaya akan paguyuban. Mereka sungguh guyup, lebih-lebih pada saat duka dan suka. Paguyuban Batak bukan partai politik. Tetapi keliru, kalau memandang paguyuban atau "punguan" orang Batak tidak berdimensi politik (yang hakiki). Sebab semua gerakan paguyuban orang Batak adalah untuk kebaikan umum (bonum commune);
Kembali ke Misi Utama dan Klasik orang Batak pada frase pertama tulukisan sumir ini. Pertanyaannya, bagaimana sikap "Keluarga Besar Borsak Sirumonggur" terhadap program politik Tigor Lumbantoruan? Pertanyaan ini tentu sebagai bahan permenungan di tengah rahasia umum, bahwa "Boru/Hela ni Raja Manalu" ini tengah merintis jalan menuju Kursi Kepemimpinan di Tapanuli Utara,
Logika politik praktis (siapapun orang Batak) belum tentu koheren dengan "Punguan atau Paguyubannya) sebagai komunitas tertinggi dan pemersatu, administrator. Kadang kala, bukan tidak mungkin ada jarak antara "Dalihan Natolu" pada tataran "Ulaon Adat" dengan politik praktis;
Akan tetapi, jangan terburu-buru melakukan generalisasi atas persepsi personal atau sebagian dari masyarakat Batak itu. Meski pun "Dalihan Natolu" tidak setara dengan peran dan fungsi Partai Politik. Dan sikap politis setiap orang harus tetap memdapat tempat yang terhormat;
Namun demikian, hampir selalu, bahwa Keputusan "Dalihan Natolu, dalam wajah Pengurus Paguyuban - Sebagai "Pewaris Tahta Periodik Leluhur" - orang Batak, jauh lebih mengikat. Karena "Keputusan Organisasi Dalihan Natolu" menyangkut dua dimensi-integral, bumi dan surga.(PB)
Share on Google Plus

About Swara Hati Rakyat

Media Online
www.SwaraHatiRakyat.Com
"Menyuarakan Hati untuk Kebenaran"
Telp.Redaksi : 0813-9764-0276